January 22, 2013

Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas : 1. Abortus

Definisi Abortus
Terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
Sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 22 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram.

Penyebab Abortus
Sebagian besar disebabkan karena kelainan kromosom hasil konsepsi. Beberapa
penyebab lain adalah trauma, kelainan alat kandungan dan sebab yang tidak
diketahui.

Gambaran Klinis Abortus

  • Adanya gejala kehamilan (terlambat haid, mual/ muntah pada pagi hari) yang disertai perdarahan pervaginam (mulai bercak sampai bergumpal) dan / atau nyeri perut bagian bawah, mengarahkan ke diagnosis abortus.
  • Abortus Imminens (Ancaman Keguguran)                                                                                Ditandai dengan perdarahan pervaginam sedikit, nyeri perut tidak ada atau sedikit. Belum ada pembukaan serviks
  • Abortus Insipiens (Keguguran sedang berlangsung)                                                                 Perdarahan pervaginam banyak (dapat sampai bergumpal-gumpal), nyeri perut hebat, terdapat pembukaan serviks. Kadang-kadang tampak jaringan hasil konsepsi di ostium serviks.
  • Abortus Inkompletus (Keguguran tidak lengkap)                                                                     Perdarahan pervaginam banyak, nyeri perut sedangsampai hebat. Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi sebagian, ostium serviks bisa masih terbuka atau mulai tertutup.
  • Abortus Kompletus (Keguguran lengkap)                                                                              Perdarahan pervaginam mulai berkurang – berhenti, tanpa nyeri perut, ostium serviks sudah tertutup. Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi utuh, seluruhnya.
  • Missed Abortion (Keguguran yang tertahan)                                                                                Abortus dengan hasil konsepsi tetap tertahan intra uterin selama 2 minggu atau lebih. Riwayat perdarahan pervaginam sedikit, tanpa nyeri perut, ostium serviks masih tertutup. Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih kecil) dari usia gestasi yang seharusnya.
Diagnosis Abortus
- Terlambat Haid (amenorhea) kurang dari 22 minggu.
- Perdarahan pervaginam, mungkin disertai jaringan hasil konsepsi.
- Rasa nyeri di daerah atas simpisis.
- Pembukaan ostium serviks.

Penatalaksanaan Abortus
A. Pada puskesmas non perawatan :
1. Abortus Imminens
    - Tirah baring sedikitnya 2 – 3 hari (sebaiknya rawat inap)
    - Pantang senggama
    - Setelah tirah baring 3 hari, evaluasi ulang diagnosis, bila masih abortus imminens tirah
       baring di lanjutkan
    - Mobilisasi bertahap (duduk – berdiri – berjalan) dimulai apabila diyakini tidak ada
       perdarahan pervaginam 24 jam
2. Abortus tingkat selanjutnya
    - Bila mungkin lakukan stabilisasi keadaan umum dengan pembebasan jalan nafas,
       pemberian oksigenasi (O2 2 - 4 liter per menit), pemasangan cairan intravena
       kristaloid (Ringer Laktat / Ringer Asetat / NaCl 0,9 %) sesuai pedoman resusitasi.
    - Pasien dirujuk setelah tanda vital dalam batas normal ke Puskesmas Perawatan atau RS
B. Pada puskesmas perawatan
1. Abortus Imminens
    - Seperti pada Puskesmas non perawatan
2. Abortus Insipiens
    - Antibiotika profilaksis : Ampisilin i.v sebelum tindakan kuretase.
    - Perlu segera dilakukan pengeluaran hasil konsepsi dan pengosongan kavum uteri.
       Dapat dilakukan dengan abortus tang, sendok kuret, dan kuret hisap
    - Uterotonika : Oksitosin 10 IU i.m
3. Abortus Inkompletus
    Perlu segera dilakukan pengosongan kavum uteri. Dapat
    - Segera atasi kegawatdaruratan :
      1. Oksigenisasi 2 – 4 liter/menit
      2. Pemberian cairan i.v kristaloid (NaCl 0,9%, Ringer Laktat, Ringer Asetat)
      3. Transfusi bila Hb kurang dari '3d 8 g/dl
4.  Abortus Kompletus
     - Evaluasi adakah komplikasi abortus (anemia dan infeksi)
     - Apabila dijumpai komplikasi, penatalaksanaan disesuaikan
     - Apabila tanpa komplikasi, tidak perlu penatalaksanaan khusus.
5. Missed Abortion
    - Evaluasi hematologi rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit) dan
       uji hemostasis (fibrinogen, waktu perdarahan, waktu pembekuan).
    - Bila terjadi gangguan faal hemostasis dan hipofibrinogenemia, segera rujuk di rumah
      sakit yang mampu untuk transfusi trombosit / Buffy-Coat dan
      komponen darah lainnya.
   - Hasil konsepsi perlu dievakuasi dari kavum uteri. Dilaksanakan setelah dipastikan
      tidak terdapat gangguan faal hemostasis.

Sumber : Anonim. 2008. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | Affiliate Network Reviews