July 23, 2012

Metode Analisis Identifikasi Bahan Pewarna yang Dilarang (Jingga K1, Kuning Metalin, Rhodamine B) dalam Kosmetika secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


METODE ANALISIS
IDENTIFIKASI BAHAN PEWARNA YANG DILARANG DALAM KOSMETIKA
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) DAN
KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)

A. IDENTIFIKASI SECARA KLT
1. Ruang lingkup
       Metode ini menguraikan prosedur untuk identifikasi bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika, yaitu:

2. Prinsip
       Bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika diekstraksi dan diidentifikasi secara KLT.
3. Baku Pembanding (BP)
3.1 Jingga K1 BP
3.2 Kuning metanil BP
3.3 Merah K10 (Rhodamine B) BP
4. Pereaksi
Semua pereaksi yang digunakan harus pro analisis.
4.1 Air destilasi
4.2 Amonia 25%
4.3 Asam asetat glasial
4.4 Asam ortofosfat 85%
4.5 n-butanol
4.6 Diklorometan
4.7 N,N-dimetilformamida (DMF)
4.8 Etanol 96%
4.9 Etil asetat
4.10 n-heksan
4.11 Isobutanol
4.12 Isopropanol
4.13 Metanol
4.14 Petroleum eter (antara 40-60°C atau 60-80°C)
4.15 Pelarut campur: campuran N,N-dimetilformamida - asam ortofosfat (95:5) v/v yang dibuat baru.
4.16 Larutan pengembang:
Pewarna larut minyak dikembangkan dengan larutan pengembang Sistem A dan pewarna larut air dengan larutan pengembang lainnya.
4.16.1 Sistem A : diklorometan
4.16.2 Sistem B : campuran etil asetat-metanol-[amonia 25% - air (3:7)] (15:3:3) v/v/v yang dibuat baru.
4.16.3 Sistem C: campuran etanol-air-isobutanol-amonia 25% (31:32:40:1) v/v/v/v
4.16.4 Sistem D: campuran isopropanol-amonia 25% (100:25) v/v
4.16.5 Sistem E: campuran n-butanol - etanol - air - asam asetat glasial (60:10:20:0,5) v/v/v/v
4.16.6 Sistem F: campuran etil asetat - n-butanol - amonia 25 % (20:55:25) v/v/v
5. Peralatan
Peralatan laboratorium yang umum digunakan, dan
5.1 Lempeng KLT silika gel 60 F254 siap pakai, ukuran 20 cm x 20 cm, tebal 0,25 mm
5.2 Bejana kromatografi
5.3 Pipa kapiler Micropipette (1-5 µL)
5.4 Kertas saring
5.5 Penyaring membran PTFE, diameter 13 mm, porositas 0,45 µm, atau yang setara
5.6 Vortex mixer
5.7 Lampu UV 254 nm dan 366 nm
5.8 Tangas air
6. Prosedur
6.1 Penyiapan larutan baku
(Catatan: Larutan baku yang pekat, akan memberikan bercak tambahan)
6.1.1 Larutan baku bahan pewarna larut minyak
Timbang saksama sejumlah Jingga K1 BP, larutkan dalam diklorometan atau pelarut campur hingga kadar 0,1 mg/mL dan sonikasi sampai homogen.
6.1.2 Larutan baku bahan pewarna larut air
Timbang saksama sejumlah Kuning Metanil BP, dan Merah K10 BP, masing-masing dilarutkan dan diencerkan dengan metanol atau DMF atau pelarut campur hingga kadar 0,2 mg/mL.
6.2 Penyiapan larutan uji
6.2.1 Produk kosmetika berwarna
Timbang saksama lebih kurang 0,1 g – 0,3 g contoh dan larutkan dalam 2 mL pelarut campur.
6.2.1.1 Untuk contoh yang diduga mengandung Jingga K1:
Lakukan ekstraksi dengan diklorometan. Jika perlu, panaskan pada suhu 90°C selama 1 jam atau sampai larut.
6.2.1.2 Untuk contoh kosmetika yang mengandung minyak :
Lakukan ekstraksi lemak 2 kali, setiap kali dengan 5 mL n-heksan. Kumpulkan ekstrak n-heksan. Jika ekstrak berwarna, ekstraksi kembali dengan 2 mL pelarut campur dan buang lapisan n-heksan. Saring lapisan pelarut campur melalui penyaring membrane dengan porositas 0,45 µm. Gunakan filtrat sebagai larutan uji.
6.2.2 Sediaan mandi dan produk kosmetika berbasis air lainnya
6.2.2.1 Timbang saksama lebih kurang 1 sampai 5 g contoh (tergantung konsentrasi warna pada contoh), tambahkan 20 mL DMF dan panaskan di atas tangas air selama 10 menit. Biarkan pada suhu ruang hingga dingin dan saring melalui kertas saring Whatman (kecepatan sedang sampai tinggi). Pewarna organic akan larut dalam DMF.
6.2.2.2 Lakukan ekstraksi terhadap lapisan DMF dengan 40 mL petroleum eter untuk menghilangkan kelebihan minyak. Uapkan lapisan DMF di atas tangas air sampai kering.
6.2.2.3 Jika lapisan petroleum eter berwarna, menunjukkan adanya pewarna larut minyak. Uapkan lapisan petroleum eter sampai kering.
6.3 Prosedur KLT
6.3.1 Produk kosmetika berwarna
6.3.1.1 Lapisi bejana KLT menggunakan kertas saring, jenuhkan bejana KLT dengan larutan pengembang yang sesuai.
6.3.1.2 Siapkan lempeng KLT dengan membuat batas penotolan dan batas eluasi lebih kurang 15 cm, kecuali untuk larutan pengembang sistem A, lebih kurang 11 cm.
6.3.1.3 Totolkan secara terpisah, masing-masing 1 μL sampai 5 μL larutan baku dan sejumlah volume sama larutan uji (tergantung kepekatan warna) pada batas penotolan.
6.3.1.4 Kembangkan lempeng dalam masing-masing bejana kromatografi yang berisi larutan pengembang sampai batas eluasi pada suhu ruang.
6.3.1.5 Angkat lempeng dan keringkan pada suhu ruang.
6.3.2 Sediaan mandi dan produk kosmetika berbasis air lainnya (gel dan larutan)
6.3.2.1 Larutkan residu (lihat 6.2.2.2 dan 6.2.2.3) dengan 0,5- 1 mL metanol dan saring melalui penyaring membrane dengan porositas 0,45 µm.
6.3.2.2 Totolkan secara terpisah, sejumlah volume sama (1 μL sampai 5 μL) larutan baku dan larutan uji pada batas penotolan.
6.3.2.3 Untuk bahan pewarna larut air (kuning metanil, dan merah K10), kembangkan lempeng sampai batas eluasi, dalam masing-masing bejana kromatografi yang berisi larutan pengembang sistem B sampai sistem F.
6.3.2.4 Untuk bahan pewarna larut minyak (jingga K1), kembangkan lempeng sampai batas eluasi lebih kurang 11 cm dalam bejana kromatografi yang berisi larutan pengembang sistem A. Untuk pengujian pendahuluan, dapat digunakan larutan pengembang sistem B.
6.3.2.5 Angkat lempeng dan keringkan pada suhu ruang.
7. Identifikasi
7.1 Hitung nilai Rf untuk masing-masing bercak.
7.2 Bandingkan nilai Rf dan warna bercak pada pengamatan secara visual yang diperoleh dari larutan uji dan larutan baku.
7.3 Amati bercak Merah K10 (Rhodamine B) di bawah penyinaran lampu UV, bercak berwarna terang yang menunjukkan adanya pewarna golongan ksanten.
7.4 Nilai Rf yang tertera dalam tabel dibawah ini, merupakan harga perkiraan yang mungkin diperoleh :
7.5 Buat kesimpulan awal mengenai identitas bahan pewarna. Jika tampak bercak bahan pewarna yang dilarang dalam contoh, lakukan pengujian lebih lanjut secara KCKT seperti yang tertera pada bagian B
(Catatan: Untuk pemurnian lebih lanjut, larutan pewarna dapat digoreskan sebanyak yang dapat dilakukan, untuk membentuk pita pada batas penotolan lempeng KLT. Kembangkan lempeng dalam bejana kromatografi yang berisi larutan pengembang sistem A untuk menghilangkan minyak. Lempeng yang sama dapat dikembangkan lebih jauh dengan larutan pengembang sistem B yang akan memisahkan bahan pewarna larut air. Kerok masing-masing pita pada lempeng KLT dan masukkan secara terpisah ke dalam Beaker glass. Lakukan ekstraksi bahan pewarna dari silika gel pada masing-masing pita dengan metanol, saring dan uapkan filtrat sampai kering. Lanjutkan pengujian seperti yang tertera pada 6.3).
8. Keterangan mengenai batas deteksi
B. IDENTIFIKASI SECARA KCKT
1. Ruang lingkup
       Metode ini menguraikan prosedur untuk identifikasi bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika, yaitu:
2. Prinsip
       Bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika diidentifikasi secara kromatografi cair fase balik dengan deteksi cahaya tampak.
3. Baku Pembanding (BP)
3.1. Jingga K1 BP
3.2. Kuning metanil BP
3.3. Merah K10 (Rhodamine B) BP
4. Pereaksi
Semua pereaksi yang digunakan harus pro analisis atau derajat kemurnian KCKT.
4.1 Air bidestilasi
4.2 Asam ortofosfat 85%
4.3 Diklorometan
4.4 Kalium hidroksida
4.5 Metanol
4.6 N,N-Dimetilformamida (DMF)
4.7 n-heksan
4.8 Larutan tetrabutilamonium hidroksida (TBA) 20%
4.9 Pelarut campur: campuran N,N-dimetilformamida-asam ortofosfat (95:5) v/v yang dibuat baru.
5. Peralatan
Peralatan laboratorium yang umum digunakan dan
5.1 KCKT dengan detektor berbagai panjang gelombang cahaya tampak dan detektor Photo Diode Array (PDA)
5.2 Penyaring membran PTFE, diameter 13 mm, porositas 0,45 µm, atau yang setara
5.3 Penyaring nilon, porositas 0,45 µm atau yang setara
5.4 Vortex mixer atau tangas ultrasonik
5.5 Tangas air
5.6 Kertas saring, Whatman (medium sampai cepat)
6. Prosedur
6.1 Penyiapan larutan baku
6.1.1 Larutan baku bahan pewarna larut minyak
Timbang saksama sejumlah Jingga K1 BP larutkan dalam diklorometan atau pelarut campur hingga kadar 0,1 mg/mL dan sonikasi selama setengah jam atau sampai larut.
6.1.2 Larutan baku bahan pewarna larut air
Timbang saksama sejumlah Kuning Metanil BP dan MerahK10 (Rhodamine B) BP, masing-masing  dilarutkan dan diencerkan dengan metanol atau N,N-dimetilformamida atau pelarut campur hingga kadar 0,2 mg/mL.
6.2 Penyiapan larutan uji
Lakukan seperti yang tertera pada 6.2 dalam bagian A (Identifikasi secara KLT).
6.3 Prosedur KCKT
6.3.1 Fase gerak
6.3.1.1 Buat campuran larutan tetrabutilamonium 0,005 M - air (75:25) v/v
6.3.1.2 Buat larutan tetrabutilamonium 0,5 M, sebagai berikut:
- Larutkan 2,8 g kalium hidroksida dalam 10 mL air.
- Masukkan ke dalam labu tentukur 100-mL.
- Tambahkan 65 mL larutan tetrabutilamonium hidroksida 20%, encerkan dengan air sampai tanda.
- Atur pH hingga 7 dengan penambahan asam ortofosfat.
6.3.1.3 Buat larutan tetrabutilamonium 0,005 M sebagai berikut:
Pipet 10 mL larutan tetrabutilamonium 0,5 M ke dalam labu tentukur 1000-mL, encerkan dengan methanol sampai tanda. Larutan menjadi keruh. Biarkan mengendap selama beberapa jam dan saring melalui penyaring membran dengan porositas 0,45 µm.
6.3.2 Kondisi
Suhu oven kolom                 : 30°C
Kolom                                 : kolom baja tahan karat berisi oktadesil- silana C18, ukuran partikel 5 μm, 200 x 4,6 mm atau yang setara
Laju alir                                : 1 mL/menit
Detektor                               : 435 nm dan 535 nm
Rentang spektra detektor     : 275 sampai 760 nm
PDA
Volume injeksi                     : 20 °L
Waktu analisis                      : 35 menit
6.3.3 Suntikkan secara terpisah larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf. Amati dan catat kromatogram. Ukur luas puncak. Bandingkan waktu retensi yang diperoleh dari kromatogram larutan uji dengan larutan baku.
7. Identifikasi
7.1 Bandingkan waktu retensi dan spektrum yang diperoleh dari kromatogram larutan uji dengan larutan baku. Waktu retensi dan spektrum yang sama antara larutan uji dengan larutan baku, menunjukkan adanya bahan pewarna dimaksud.
7.2 Panjang gelombang detektor dan waktu retensi baku bahan pewarna, sebagai berikut.

Catatan :
- Kromatogram dan waktu retensi harus memberikan factor kemiripan lebih dari 90%.
- Jika diduga mengandung bahan pewarna, tambahkan baku bahan pewarna ke dalam contoh. Puncak tunggal harus diperoleh untuk puncak yang diduga dan puncak baku bahan pewarna.
- Gunakan detektor Spektrometri Massa untuk konfirmasi.
8. Keterangan mengenai batas deteksi

C. KESIMPULAN
Hasil dari pengujian KLT dan KCKT dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika.

Analisis Kadar Parasetamol Dalam Tablet dengan Metode Spektrofluorometri

Analisis Kadar Parasetamol Dalam Tablet dengan Metode Spektrofluorometri

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Panas tinggi atau demam adalah suatu kondisi saat suhu badan lebih tinggi daripada biasanya atau diatas suhu normal. Umumnya terjadi ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan. Suhu normal manusia berkisar antara 36-370 C. Demam merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dengan mengeluarkan zat antibodi. Pengeluaran zat antibodi yang lebih banyak daripada biasanya ini diikuti dengan naiknya suhu (Widjaja, 2001).
            Parasetamol atau asetaminofen adalah obat yang dapat digunakan untuk meredakan demam. Selain itu Parasetamol juga dapat digunaan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Parasetamol aman dan dapat memberikan efek bila diberikan dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
            Dalam rangka mengetahui berapa kadar suatu obat khususnya dalam kasus ini adalah Parasetamol dapat digunakan berbagai macam metode. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah spektrofluorometri, yaitu dengan mereaksikan Parasetamol dengan oxidizing agent terlebih dahulu untuk membentuk senyawa rigid yang dapat dibaca pada spektrofluorometer.
B.     Permasalahan
Permasalahannya adalah apakah kadar zat aktif Parasetamol yang terkandung dalam sediaan tablet telah memenuhi persyaratan yang sesuai dengan Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.
C.    Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk megetahui kadar zat aktif Parasetamol dalam sediaan tablet
2.      Untuk megetahui metode yang digunakan dalam penetapan kadar zat aktif Parasetamol dalam sediaan tablet secara laboratorium.
D.    Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.      Memberikan  informasi tentang kadar zat aktif Parasetamol dalam sediaan tablet.
2.      Memberikan informasi tentang apakah zat aktif Parasetamol yang terkandung dalam sediaan tablet telah memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV Tahun 1995yaotu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.
3.      Memberikan informasi tentang metode yang digunakan dalam penetapan kadar zat aktif Parasetamol dalam sediaan tablet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Parasetamol
            Acetaminophen atau Parasetamol adalah obat analgetik dan antipiretik yang digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal atau sakit ringan dan demam. Parasetamol digunakan dalam sebagian resep obat analgetik selesma dan flu. Berbeda dengan obat analgetik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parastamol tidak memiliki sifat antiradang.
            Parasetamol merupakan derivate dari asetanilida yang efek enalgetiknnya dapat diperkuat dengan koffein dengan kira-kira 50% dan codein. Overdose dapat menimbulkan antara lain mual, muntah dan anoreksia. Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya 8-10 jam setelah intoksikasi. Penggunaan parasetamol dalam dosis besar dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada hati, untuk itu parasetamol dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat. Wanita hamil dapat menggunakan parasetamol dengan aman, juga selama laktasi walaupun mencapai susu ibu. Interaksi dengan dosis tinggi memperkuat efek antikoagulansia dan pada dosis biasa tidak interaktif ( Tjay, 2000).
            Cara kerja parasetamol sebagai analgetik dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit pada prostalglandin. Cara kerja parasetamol sebagai antipiretik diduga bekerja langsung pada pusat pengatur panas di hipotalamus.
            Parasetamol merupakan obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Sejumlah besar parasetamol akan melebihi kapasitas kerja hati, sehingga hati tidak dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang dapat merusak hati. Keracunan parasetamol pada anak-anak yang belum mencapai masa puber jarang berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun overdosis acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati.


Nomenclature :
Nama Latin     : Acetaminophen
INN                 : Paracetamol
Nama Kimia    : N-(-4-hydroxyphenyl)ethanamide
                          N-acetyl-para aminophenol
Rumus Kimia  : C8H9NO2
Bobot Molekul: 151,2
Bentuk Fisik    : serbuk Kristal putih tidak berbau
Kelarutan        : 1 bagian larut dalam 70 bagian air
 B.     Spektrofluorometri
            Ada dua peristiwa fotoluminesensi, yaitu fluoresensi dan fosforisensi. Pada fluoresensi, pemancaran kembali sinar oleh melokul yang telah menyerap energi sinar terjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah penyerapan (10-8 detik). Jika penyinaran kemudian dihentikan, pemancaran kembali oleh molekul tersebut juga berhenti. Fluoresensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul.
            Banyak senyawa kimia yang mempunyai sifat fotoluminesensi, artinya senyawa kimia tersebut dapat dieksitasi oleh cahaya dan kemudian memancarkan kembali sinar yang panjang gelombangnya sama atau berbeda dengan panjang gelombang semula (panjang gelombang eksitasi).
            Variable-variabel yang mempengaruhi fluoresensi dan fosforesensi yaitu :
1.      Hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield)
Merupakan bilangan yang menyatakan perbandingan antara jumlah molekul yang berfluoresensi terhadap jumlah total molekul yang tereksitasi. Besarnya quantum (ɸ) adalah : 0 ≤ ɸ ≤ 1. Nilai ɸ diharapkan adlah mendekati 1, yang berarti efisiensi fluoresensi sangat tinggi.
2.      Pengaruh kekakuan struktur
Fluoresensi dapat terjadi dengan baik jika molekul-molekul memiliki struktur yang kaku (rigid). Contoh fluoren yang memiliki efisiensi kuantum (ɸ) yang besar (mendekati 1) karena adanya gugus metilen, dibandingkan dengan binefil yang memiliki efisiensi kuantum yang lebih kecil (sekitar 0,2).
3.      Pengaruh suhu
Bila suhu makin tinggi maka efisiensi kuantum fluoresensi makin berkurang. Hal ini disebabkan pada suhu yang lebih tinggi, tabrakan-tabrakan antar molekul atau tabrakan molekul dengan pelarut menjadi lebih sering, yang mana pada peristiwa tabrakan, kelebihan energy molekul yang tereksitasi dilepaskan ke molekup pelarut.jadi semakin tinggi suhu maka terjadinya konversi ke luar besar, akibatnya efisiensi kuantum berkurang.
4.      Pengaruh pelarut
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pengaruh pelarut pada fluoresensi, yaitu:
a.       Jika pelarut makin polar maka intensitas fluoresensi makin besar.
b.      Jika pelarut mengandung logam berat (Br, I atau senyawa lain), maka interaksi antara gerakan spin dengan gerakan orbital elektron-elektron ikatan lebih banyak terjadi dan hal tersebut dapat memperbesar laju lintasan antara sistem atau mempermudah pembentukan triplet sehinga kebolehjadian fluorosensi lebih kecil, sedangkan kebolehjadian fosforesensi menjadi lebih besar
5.      Pengaruh ph
a.       pH berpengaruh pada letak keseimbangan antar bentuk terionisasi dan bentuk tak terionisasi. Sifat fluorosensi dari kedua bentuk itu berbeda. Sebagai contoh, fenol dalam suasana asam akan berada dalam bentuk molekul utuh dengan panjang gelombang antara 285-365 nm dan nilai ε = 18 M-1 cm-1 , sementara jika dalam suasana basa maka fenol akan terionisasi membentuk ion fenolat yang mempunyai panjang gelombang antara 310-400 nm dan ε = 10 M-1 cm-1 .
     6.      Pengaruh oksigen terlarut
            Adanya oksigen akan memperkecil intensitas fluoresensi. Hal ini disebabkan oleh terjadinya oksidasi senyawa karena pengaruh cahaya (fotochemically induced oxidation). Pengurangan intensitas fluorosensi disebut pemadaman sendiri atau quenching. Molekul oksigen bersifat paramagnetik, dan molekul yang bersifat seperti ini dapat mempengaruhi dan mempermudah lintasan antara sistem sehingga memperkecil kemungkinan fluorosensi, sebaliknya memperbesar kebolehjadian fosforesensi.
7.      Pemadaman sendiri dan penyerapan sendiri
            Pemadaman sendiri di sebabakan oleh tabrakan-tabrakan antar molekul zat itu sendiri. Tabrakan-tabrakan itu menyebabkan energi yang tadinya akan dilepaskan sebagai sinar fluorosensi ditransfer ke molekul lain, akibatnya intensitas berkurang. Salah satu proses pemadaman sendiri dapat ditulis sebagai berikut:
Molekul analit tereksitas + pemadaman menjadi molekul analit berkeadaan dasar + pemadam+ energi

            Supaya suatu molekul berfluoresensi, maka molekul tersebut harus menyerap radiasi. Jika konsenrasi senyawa yang menyerap radiasi tersebut sangat tinggi, maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh.oleh karena itu, fluoresensi sampel yang berkonsentrasi tinggi ini tidak seragam dan tidakakan proporsional dengan konsentrasi senyawa. Karena kejadian seperti ini tidak diinginkan untuk tujuan analisis kuantitatif, maka konsentrasi larutan yang berfluoresensi harus dijaga dalam konsentrasi rendah ntuk mencegah terjadinya penyerapan radiasi yang tidak seragam ini.
            Sistem ikatan rangkap terkonjugasi memiliki struktur yang planar dan kaku sehingga akan mampu menyerap secara kuat di daerah 200-800 nm pada radiasi elektromagnetik. Senyawa-senyawa yang mempunyai ikan rangkap terkonjugasi ini merupakan calon senyawa yang mampu berfluoresensi. Modifikasi struktur terhadap senyawa-senyawa ini dapat menurunkan atau meningkatkan intensitas fluoresensi, tergantung pada sifat dan letak gugus substituen.
            Gugus-gugus yang memberikan elektron (elektron donating groups) seperti gugus hidroksil, aminoatau metoksi yang terikat secara langsung pada sistem ikatan п dapat memfasilitasi terjadinya proses fluoresensi. Gugus-gugus yang menarik elektron (elektron withdrawing groups) seperti nitro, bromo, iodo, siano, atau karboksil cenderung mengurangi intensitas fluoresensi. Untuk obat-obat yang mempunyai gugus fungsional yang dapat terionisasi yang terikat pada siste konjugasi, pemilihan ph dapat mempengaruhi sensitifitas dan selektifitas pengujian. Dalam kasus senyawa fenol, ionisasi menjadi anion fenolat biasanya mendorong fluoresensi; sementara itu perubahan amin aromatis menjadi kation amonium aromatis menghambat proses fluoresensi.
            Penambahan banyaknya ikatan rangkap terkonjugasi dalam suatu sistem menyebabkan peningkatan fluoresensi utamanya jika dalam sistem struktur aromatis heterosiklik, yakni suatu struktur aromatisnyang mengandung gugus N, S, dan O. Intensitas fluoresensi senyawa heterosiklis yang mengandung gugus –NH seringkali meningkat pada ph asam yang mana gugus nitrogen mengalami protonasi.
            Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara interinsik, maka senyawa tersebut harus dirubah menjadi senyawa yang berfluoresen untuk dapat dianalisis. salah satu pendekatan yang telah sukses digunakan untuk merupah senyawa menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan UV, hidrolisis, dan dengan dehidrasi menggunakan asam kuat. metode lain adalah dengan pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat denagan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk senyawa berfluoresensi yang disebut dengan fluorofor. reaksi yang meningkatkan intensitas fluoresensi juga meningkatkan perpanjangan sistem elektron п atau kekakuan(rigiditas) molekul yang berarti juga meningkatkan planaritas struktur. prosedur- prosedur yang menhasilkan fluorofor jga dapat memberikan peningkatan sensitifitas dan spesifisitas metode pengujian dengan menggeser panjang gelombang eksitasi dan emisi ke panjang gelombang yang lebih panjang sehingga gangguan-gangguan dari senyawa lain menjadi minimal atau hilang sama sekali..
            Metode kedua yang digunakan untuk menguah obat yang tdak berfluoresensi atau metabolitnya menjadi senyawa yang berfluoresensi (fluorofor) adalah metode pengkoplingan atau penggabungan gugus fungsional molekul organik tertentu dengan reagen fluoresen. diantara reagen-reagen yang sangat popular yang tersedia di pasaran adalah fluoresamin, o-ftalaldehid, dansil klorida dan NBD klorida.
            Kerugian metode pembentukan fluorofor dengan pengoplingan adalah: (1) Spesifitasnya masih kalah bagus jika dibandingkan dengan metode induksi kimia,(2) Adanya fluoresensi dasar (background) yang tinggi yang disebabkan oleh reagen yang tidak ikut bereaksi, (3) Beberapa tahap pemisahan terhadap kelebihan reagen biasanya di perlukan sebelum dilakukan pengukuran, dan (4) Ketersedian reagen untuk gugus fungsional tertentu biasanya terbatas.
            Metode-metode yang melibatkan pembentukan fluorofor yang mengandung ion-ion anorganik juga menarik terutama untuk analisis sekelumit (trace analysis) ion tertentu. Prosedurnya ada 2 kategori, kategori pertama melibatkan pembentukan khelat berfluoresensi antara ion dengan senyawa organik dilanjutkan dengan pengukuran emisinya. Metode ini bermanfaat untuk ion-ion logam non transisi yang mana kurang begitu kompetitif dengan proses fluoresensi dalam keadaan tereksitasi. Kategori ke dua pada umumnya digunakan untuk analisis anion. Penurunan intensitas fluoresensi diamati sebagai peningkatan kuantitas anion yang ditambahkan. Efek ini disebabkan oleh pengaruh pemadaman (quenching) ion-ion organik pada emisi fluoresensi senyawa organik.
            Fosforisensi lebih di sukai terjadi pada eksitasi elektronyang tidak berpasangan (non-bonding elektron, n). Dan juga, adanya substitusi pada struktur molekul dengan halogen, logam berat, dan gugus-gugus nitro (terutama yang dekat dengan elektron yang tereksitasi) akan meningkatkan fosforisensi. Hal ini disebabkan adanya gugus-gugus fungsional tersebut yang dapat mendorong transisi elektron dari keadaan tereksitasi singlet ke keadaan tereksitasi triplet yang merupakan syarat untuk teramatinya fosforisensi.
            Ada tiga keuntungan analisis fluorometri dan foforimetri dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi yaitu:
1.      fluorometri lebih peka
2.      fluorometri lebih selektif
3.      pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi.
C.    Tablet
            Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok ( menurut FI III). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa (menurut FI IV).
            Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.      Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan
2.      Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil
3.      Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik
4.      Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
5.      Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan
6.      Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
7.      Bebas dari kerusakan fisik
8.      Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan
9.      Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10.  Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
Komponen tablet yaitu :
1.      Zat aktif
2.      Zat tambahan (eksipien)
a.       Bahan pengisi (dilluent/filler)
b.      Bahan pengikat (binders)
c.       Bahan penghancur (disintegrants)
d.      Bahan pelican (anti frictional agents)
·         Lubricants
·         Glidants
·         Anti adherent
Beberapa metode granulasi adalah sebagai berikut :
1.      Granulasi basah
2.      Granulasi kering
3.      Kempa langsung
 Cara Kerja Skematis Pembuatan Tablet:

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Alat
Alat yang digunakan dalam peneltian ini adalah Spektrofluorometer Shimadzu, kompor listrik, kertas saring, gelas ukur, pipet volume, pipet ukur, mikro pipet, labu ukur, timbangan digital, tabung reaksi, termometer, corong, cawan petri, alat uji dissolusi.
B.     Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah hasil proses pencampuran pembuatan tablet paracatamol, tablet parasetamol, baku pembanding  BPFI, NaOCl, Aq.bidestilata, Na2CO3, H3BO3, kertas pH,
C.    Prosedur percobaan
Pembuatan larutan baku : larutan baku dibuat dari baku Parasetamol 1,mm mg/mL dibuat menkadi kurva baku ( 0,1; 0,2; 0,4 dan 0,8  µg/mL)
Larutan NaOCl : dari standar 70,0 g/L dibuat NaOCl dengan konsentrasi 0,01 M dengan aqua demineralisata
Larutan Buffer : 0,4 M Na2CO3 + 0,4 M H3BO3
dibuat dengan melarutkan 2,12 g Na2CO3 dalam aqua demineralisata ad 50,0 dan 1,24 g H3BO3 yang dilarutkan dalam aqua demineralisata ad 50,0mL.
IPC  (In Process Control)
a.       Penentuan homogenitas campuran
1.      Semua bahan di masukkan dalam mixer
2.      Mixer digerakkan dengan kecepatan 100 RPM
3.      Pada masing-masing waktu pengambilan sampel, sampel diambil dari dalam mixer dari tiap bagian mixer (5 tempat)
4.      Waktu pengambilan cuplikan 8 menit.
5.      Sampel yang diambil masing-masing tempat sebesar 100 mg.
6.      Sampel dilarutkan dengan NaOH  ad pH 10
7.      Ditambahkan aqudest ad 10,0 mL, gojok ad homogeny
8.      Kemudian dilakukan pengenceran sampai 5000 kali.
9.      Ambil 1,00 mL + 2,00 mL dapar Na2CO3 H3BO3 + 3,5 mL NaOCl, kocok
10.  Dipanaskan pada suhu 800 C selama 2 menit.
11.  Didinginkan dengan aq.dest ad 10,0 mL
12.  Dibaca dengan spektrofluorometer dengan panjang gelombang eksitasi = 335nm, panjang gelombang emisi = 427 nm
13.  Ditentukan homogenitas campuran berdasarkan nilai CV
b.      Disolusi tablet parasetamol
1.      Satu tablet parasetamol dimasukkan dalam medium disolusi yaitu 900,0 mL yaitu aquadest.
2.      Pengaduk diputar dengan kecepatan 50 RPM
3.      Sampel diambil dari medium pada waktu 8  menit sebanyak 10,0 mL
4.      Dari sampel diambil 1,00 mL dan dilakukan pengenceran 200 kali
5.      Ambil 1,00 mL + 2,00 mL dapar Na2CO3 H3BO3 + 3,5 mL NaOCl, kocok
6.      Dipanaskan pada suhu 800 C selama 2 menit.
7.      Didinginkan dengan aq.dest ad 10,0 mL
8.      Dibaca dengan spektrofluorometer dengan panjang gelombang eksitasi = 335nm, panjang gelombang emisi = 427 nm
c.       Penetapan kandungan zat aktif
1.      Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet.
1.      Timbang seksama sejumlah serbuk tablet setara dg ± 100 mg PCT
2.      Tambahkan NaOH ad pH 10
3.      Tambahkan aq.dest ad 10,0 mL, gojok ad homogen
4.      Kemudian dilakukan pengenceran sampai 5000 kali
5.      Ambil 1,00 mL + 2,00 mL dapar Na2CO3 H3BO3 + 3,50 mL NaOCl kocok
6.      Panaskan sampai suhu 800 C
7.      Dinginkan dengan aq.dest ad 10,0 mL
8.      Dibaca dengan spektrofluorometer dengan panjang gelombang eksitasi = 335nm, panjang gelombang emisi = 427 nm


Disusun oleh :
Auliarrahman Rizqi, S.Farm, Apt.     
Dyah Erma Yunita, S.Farm, Apt.           
Muhammad Fariez K, S.Farm, Apt.




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | Affiliate Network Reviews